Senin, Mei 27, 2024
BerandaIndexSeni & BudayaBPCB Jatim, Ekskavasi Situs Tribuana Tunggadewi Klinterejo

BPCB Jatim, Ekskavasi Situs Tribuana Tunggadewi Klinterejo

MOJOKERTO, Xtimenews.com – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa timur mengekskavasi Situs Bhre Kahuripan alias Tribuana Tunggadewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ekskavasi dilakukan mulai Senin (19/08/2019) hingga Sabtu (31/08/2019).

Proses Ekskavasi BPCB Jatim dibantu oleh warga sekitar. Ekskavasi ini juga untuk menggali bentuk asli dan fungsi bangunan.

Kepala Sub Unit Pemanfaatan BPCB Jatim Pahadi mengatakan, Ekskavasi ini dilakukan karena adanya sebuah permohonan untuk mengembangkan situs Yoni Klinterejo yang datang dari unsur masyarakat yang ingin membuat cungkup. Situs purbakala di dalamnya berupa Yoni, yaitu bangunan yang menjadi tempat pemujaan pada zaman Majapahit penganut Agama Hindu.

“Permohonan itu lalu ditindaklanjuti karena kawasan cagar budaya trowulan ini masuk dalam kawasan strategi nasional sekaligus sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional, maka seluruh izin pemanfaatan maupun pengembangan itu ada di kewenangan menteri pendidikan kebudayaan,” kata Pahadi, Senin (19/08/2019).

Kemudian, lanjut Pahadi, pihak pengembang melayangkan permohonan kepada kementerian pendidikan kebudayaan dan ditujukan kepada direktur pelestarian cagar budaya dan permuseuman agar lebih dulu dilakukan kajian sebelum cungkup dibangun.

“Untuk mengembangkan itu artinya bahwa aspek keaslian itu harus dipertahankan, oleh karena itu perlu sebuah kajian. Ini kita merujuknya pada regulasi perundang undangan itu undang undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, jika akan dikembangkan dengan penambahan cungkup tidak merusak struktur aslinya,” jelasnya.

Yoni itu sendiri dibuat pada tahun 1294 saka atau 1372 masehi itu terpahat pada salah satu sisi yoni. Ratu Tribhuwana merupakan anak dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Dia juga ibu dari Raja Hayam Wuruk. Terdapat juga banyak struktur bangunan yang masih terpendam di sekitar yoni.

“Ada temuan struktur bata merah kuno di sebelah barat dan utara situs ini. Perkiraan kami luasannya 25 x 25 meter persegi,” tegasnya.

Kendati demikian, untuk mengetahui bentuk dan fungsi situs pihaknya akan meminta bantuan arkeolog dari Universitas Negeri Malang. “Nantinya kami juga meminta bantuan arkeolog dari Universitas Negeri Malang untuk menginterprestasikan bentuk dan fungsi situs ini,” pungkasnya.(den/gan)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments