Sabtu, Juli 20, 2024
BerandaIndexHeadlineTernyata Ini Alasan Pengurus Ponpes di Mojokerto Sebut Santri Tewas Akibat Terjatuh...

Ternyata Ini Alasan Pengurus Ponpes di Mojokerto Sebut Santri Tewas Akibat Terjatuh Dari Lantai Dua

MOJOKERTO, Xtimenews.com – Tewasnya Ari Rivaldo (16) seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba’ul Ulum akibat dianiaya oleh kakak seniornya sempat dibantah oleh pengurus pondok. Saat itu pengurus mengatakan korban tewas akibat terjatuh dari lantai dua asrama santri.

Pernyataan itu dikatakan oleh Pengurus Pondok Putri Anisatul Fadilah (32) pada Selasa (20/8) saat korban dibawa ke RS Bhayangkara Pusdik Gasum Porong. Menurut Anisatul, Ari terjatuh dari lantai dua ketinggian sekitar 10 meter karena kelelahan usai mengikuti lomba gerak jalan HUT Kemerdekaan RI ke 74.

Namun, peryataan tersebut dipatahkan dengan hasil pemeriksaan polisi. Dari hasil penyelidikan polisi, Ari tewas akibat ditendang dua kali di kamar asrama oleh seniornya yang bernama WN (17) santri asal kecamatan Pacet, Mojokerto.

Saat ditendang kepala korban membentur dinding sehingga kepala korban mengalami luka di bagian belakang sebelah kanan. Akibatnya tengkorak belakangnya pecah. Polisi pun menetapkan WN sebagai tersangka penganiayaan yang menewaskan Ari Rivaldo santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Pengurus Pondok Putra PP Mambaul Ulum Mahfudin Akbar (33) saat dihubungi mengatakan, pernyataan yang dikatakan oleh Anisatul Fadilah saat itu adalah berdasarkan keterangan dan pengakuan dari WN saat ditanya di depan IGD RSUD Prof Dr Soekandar, Mojosari, Mojokerto saat korban menjalani perawatan, pada selasa (20/8) dini hari.

“Mungkin karena WN takut, jadi bilangnya ke Ning Fadilah Ari jatuh dari lantai dua asrama santri. Saya saat itu juga ketemu WN, tapi saya tidak sempat menanyai dia,” kata Gus Didin, Jumat (23/8/2019).

Gus Didin mendapatkan kabar Ari dirawat di rumah sakit dari salah satu ustaz. Menurut dia, usai penganiayaan yang menyebabkan luka. Korban dibawa ke RSUD oleh WN tanpa melaporkan pada pengurus.

“Karena WN masih di bawah umur, tidak bisa mengurus administrasi di RSUD. Sehingga dia kembali ke pondok membangunkan ustaz, lalu ustaznya yang ngabari saya sekitar pukul 04.00 WIB,” terang Gus Didin.

Saat itu Gus Didin mengaku fokus pada penyembuhan korban karena korban mengalami luka yang cukup parah. Bahkan saat korban tewas dia juga masih disibukkan urusan pemakaman jenazah. Sehingga dia tidak sempat mengorek keterangan lebih dalam terkait luka yang dialami Ari.

“Saya sendiri saat itu tidak bisa memutuskan penyebab Ari meninggal karena apa. Karena belum ada hasil autopsi, olah TKP dan sebagainya,” Ujarnya.

Setelah diselidiki oleh polisi ternyata Ari tewas akibat dianiaya oleh WN. Kini Gus Didin hanya bisa pasrah dengan proses hukum yang berjalan.

“Proses hukumnya kami ikuti, pesantren hanya mendamaikan keluarga korban dan pelaku biar Ari tenang. Biaya rumah sakit dan pemakaman sudah difasilitasi pondok,” pungkas Gus Didin.(den/gan)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments