Penulis: Didik Firdiyanto
Akhir Agustus 2025 ini, jalanan di beberapa kota besar di Indonesia seolah menjadi panggung teatrikal: rakyat berteriak, aparat berjaga, spanduk dan gas air mata saling bersahutan. Niat hati ingin menyampaikan aspirasi, menyalurkan kejengkelan atas perilaku para petinggi yang kian hari makin angkuh, seolah tak tersentuh oleh keluhan hidup rakyat kecil. Namun, yang tampak justru benturan yang menyisakan luka. Bahkan, ada nyawa yang melayang hanya karena ingin bersuara.
Ironis, karena Agustus seharusnya jadi bulan penuh syukur, bulan di mana kita mengenang betapa beratnya perjuangan merebut kemerdekaan. Mestinya kita merayakan dengan bahagia, bukan justru berduka. Namun, kenyataan pahit ini mengingatkan kita pada satu momentum besar dalam sejarah Islam: Fathul Makkah.
Ketika Rasulullah SAW memasuki kota Makkah setelah bertahun-tahun umat Islam dizalimi, dicaci, diusir, bahkan diperangi, banyak orang membayangkan akan ada pembalasan dendam. Wajar jika ekspektasi itu muncul: umat Islam punya kesempatan mengobrak-abrik kota yang dulu menyiksa mereka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah masuk dengan rendah hati, menundukkan kepala, bukan dengan congkak. Tak ada balas dendam, tak ada penjarahan, tak ada kekacauan. Yang ada hanyalah pemaafan. Kata-kata Nabi saat itu jelas dan tegas: “Pergilah, kalian bebas.”
Bandingkan dengan kondisi kita hari ini. Rakyat memang punya keluhan. Hidup makin susah, PKH dimana-mana, harga melambung, pejabat sibuk dengan citra, berjoget dan gaya hidup mewah. Lalu muncul ledakan kemarahan dalam bentuk aksi massa. Tetapi, apakah jalan terbaik adalah melampiaskan amarah dengan merusak, mengobrak-abrik, bahkan menjarah barang-barang seperti mendapat harta rampasan perang? Jika iya, maka kita tak sedang menyalurkan aspirasi, melainkan justru menciptakan luka baru.
Momentum HUT kemerdekaan seharusnya tidak dibiarkan ternodai oleh dendam atau balas sakit hati. Jangan sampai penderitaan sehari-hari menjelma jadi alasan untuk saling menghancurkan atau dalam istilah Jawa dikenal “Ti ji ti beh alias mati siji mati kabeh”. Sebaliknya, mari belajar dari Fathul Makkah: bahkan dalam puncak kuasa sekalipun, pilihan terbaik adalah merangkul, bukan memukul; membangun, bukan meruntuhkan. Kemerdekaan yang diwariskan para pejuang bukan sekadar kebebasan berteriak di jalanan, melainkan tanggung jawab untuk merawat bangsa ini.
Kita memang punya hak untuk protes, tetapi protes itu seharusnya diarahkan menjadi energi perubahan, bukan amukan. Kita boleh kecewa dengan perilaku para petinggi, tapi jangan biarkan kekecewaan itu menjerumuskan kita pada tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Akhir Agustus ini semestinya menjadi refleksi: bahwa bangsa ini tidak akan maju jika rakyat dan pemimpinnya hanya saling curiga dan saling balas. Justru, semangat kebersamaanlah yang harus kembali dihidupkan. Kita perlu keberanian untuk menegur yang salah, tetapi juga kebijaksanaan untuk melakukannya dengan cara yang membangun.
Mari tetap lestarikan agustusan dengan menggelar event-event kreatif yang menghibur seperti halnya lomba, karnaval, pawai dan aneka ragam festival, jangan sampai aksi demonstrasi yang anarkis dan massiv di berbagai kota ini dimaknai sebagai cara baru merayakan agustusan dengan tantangan: siapa yang paling hancur kotanya, ialah yang paling pantas jadi juaranya, ironis bukan?